Hari pertama,
Awal aku meninggalkan jejak sebagai perokok. Biasanya habis bangun tidur aku langsung mengambil sebatang rokok yang aku sisakan semalam. Sekarang tidak lagi. Jatah rokok pagi ini memang sengaja aku habiskan malam sebelumnya. Esok sudah tak ada lagi asap mengepul di rumah kecuali asap dapur dan obat nyamuk bakar. Pokoknya aku berjanji mulai hari hari ini aku mulai perjalanan hidupku tanpa rokok.
Selama perjalanan menuju kantor, aku sugestikan secara terus menerus pada diri ini. Aku bukan perokok lagi, selamat tinggal rokok, hari ini tiada sebatang rokok terselip di jemariku. Sugesti tersebut terus aku lafalkan dalam hati hingga tiba di kantor. Hari ini adalah hari Senin. Tak banyak kegiatan yang bisa aku lakukan. Hari-hari biasanya aku selalu mengisi jam yang kosong dengan merokok di gudang kantor. Apakah hari ini aku bisa melewatkan hari tanpa rokok?
Cobaan pertama datang. Selepas sarapan pagi di kantin, teman sejati tempat curhat segala persoalanku berbicara lewat hati terus mengrimkan sinyalnya ke otak untuk bertindak. Bisikan agar aku merokok selepas makan. Pasti nggak enak jika setelah makan tidak kita tutup dengan rokok. suara tersebut terus bergaung di sela-sela otak besar dan syarafku. Buru-buru aku menuju ke dalam ruanganku. Kuambil segelas air putih, kuambil lagi, lagi, dan lagi hingga suara tersebut tak lagi berkumandang.
Kulupakan semua perasanku tentang rokok dengan berbagai kegiatan. Cobaan kedua datang. Hujan deras mengguyur bumi. Jam kerja sudah habis. Saatnya aku harus berada di rumah. Naas jas hujan yang aku pakai raib entah kemana. Kesempatan ini digunaka oleh temanku untuk kembali membisikkan kata,”enaknya hujan-hujan begini merokok di gudang yang hangat”. Suara itu tak ku pedulikan. Aku terus saja mencari di mana jas hujanku. Berharap segera ketemu dan aku bisa melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Di sana bebas asap rokok. Di sana ada anakku yang ku tak mau menderita karena asap rokok. Di sana ada istriku yang menanti janji yang harus kutepati untuk berhenti merokok. Kemungkinan kesempatan merokokku tak ada sama sekali jika aku harus berada di rumah.
Aku mencari jas hujan sampai ke warung mbok Pini. Tempat biasa aku nongkrong sambil mengepulkan asap rokok bersama teman-teman. Di sana telah hadir Mr. Jati, Pak Bari, Mas Kadi yang siap join rokok denganku. Alih-alih memesan kopi aku menanyakan keberadaan jas hujanku pada Mbak Sri. Pelayan setia warung Mbok Pini. Secangkir kopi telah dihidangka di hadapanku. Manis dan hangatnya kopi seakan mengundang diriku untuk mengambil sebatang rokok sebagai pelengkapnya. Sebungkus rokok warung kini telah berada di hadapanku. Tidak, aku tak akan mengambil satu batang pun rokok di warung ini. Ah, setelah kopi ini habis aku akan segera pergi dari sini. Tak lama beberapa teman ahli hisap datang berduyun-duyun. Aku segera pamit kepada pelayan warung. Aku belum siap menghadapi ajakan teman-temanku untuk merokok. Lebih baik sementara waktu aku menghindar dari mereka.
Syukurlah. Jas hujanku ketemu di bawah sebuah tempat berteduh di kantor. Atas kebaikan budi Satpam kantor jas hujanku diselamatkan dari basahnya air hujan yang mengguyur. Jas hujan yang aku sampirkan di motorku selamat dari kebasahan. Heran padahal nanti juga aku pakai buat hujan-hujanan. Tidak masalah. Yang penting sekarang aku bisa pulang.
Di rumah. Anak istri menunggu dan menyambutku dengan gelak dan tawa ceria mereka. Sebuah kecupan kuberikan mendarat tepat di kening istri tersayang. Dalam hati aku berkata, “istriku, hari ini tak usah kau resahkan baju suamimu yang bau rokok. Hari ini bajuku masih berbau parfum yang kau berikan pagi tadi. Walau tak seharum pagi tadi karena sudah tercampur bau wangi keringatku. Penting baju ini tak lagi bau rokok”. Senyuman kecil tersungging dari bibir istriku. Nampaknya dia menangkap suara hatiku yang tak tersirat. Aku pun tak ragu untuk menggendong anakku. Kudekap, kebelai, kucium pipi tembem itu. Aku tak khawatir lagi karena sisa asap rokok yang biasa kuhirup tak lagi keluar. Kadang saat aku merokok dulu, sisa asap rokok masih suka keluar walau sudah aku cuci mulut ini. Kutimang dan kukeloni anakku supaya bisa tidur siang. Aku pun harus istirahat karena malam nanti harus pergi nge-les privat anak didikku.
Malam ini aku berangkat. Sekitar dua jam aku berada di rumah Hendi murid privatku. Sungguh beruntung diriku karena PR mala ni adalah Matematika yang belum aku kuasai materinya. Pusing dan puyeng yang didera Hendi atas PR nya aku rasakan sama pada diriku. Teman kecilku kembali berbisik,
”Kalau pikiran kamu pusing dan capek. Mendingan merokok aja enak deh. Sudahlah malam ini sebatang saja. Aku tahu kamu sedang diet rokok. Tapi sebagai permulaan terapi boleh khan sekali saja. Bandingkan pada hari-hari biasanya. Dua bungkus pun bisa kau sikat habis. Masak sekarang satu batanbg saja tidak bisa?. Ayolah ngak apa-apa. Terapi ini khan bersifat berangsur-angur. Nggak usahlah kamu berhenti total, tapi kurangi sedkit jatah yang biasa kamu konsumsi. Nanti kalau sudah kuat tidak apa-apa kau tidak merokok sama sekali”. Tidak. Aku harus kuat. Aku harus cepat-cepat sampai di rumah lagi. Aku ambil air wudhu, sholat Isya’ lalu tidur secepatnya.
Rupanya cobaan yang terakhir pada malam hari ini begitu kuat menghujam ke hatiku. Hujaman itu bagaikan sebuah cutter yang menyayat pelan, berulang dan ketajamannya meninggalkan rasa perih yang sangat. Aku mengira di rumah tiadk akan berani teman kecilku berbisik. Dugaanku salah. Ketika istriku menawarkan aku makan mie rebus, aku mengiyakan. Setelah itu bisikan yang sama seperti tadi pagi kembali terdengar,
”enaknya habis makan merokok ya. Tuh, warung Pak Tikno masih buka. Kalau nggak punya uang buat beli, bisa ngutang dulu kok” desak teman kecilku serasa masuk hingga ke pori-pori kulit di tubuhku.
“Hai, malam ini kamu khan akan menulis buku harianmu. Enaknya sambil merokok yuk biar dapat ide”
“Hai, malam ini kamu juga pas giliran jaga malam bukan? Ayo temani malammu dengan menghisap batang rokok. mumpung masih sore. Tidak hanya warung Pak Tikno yang buka, warung bu Suyadi pun masih”.
Berpuluh kata mengajakku untuk kembali menghisap tembakau yang dibalut kertas tersebut. Satu hal yang aku dapat berikan untuk membentengi diri ini,”AKU BISA 100 KALI LEBIH KUAT HIDUP TANPA MEROKOK”. Itulah self talk ku hari ini. Besok hari selasa. Hari terpadat aku bekerja,. Hari yang melelahkan. Peluang untuk mencoba diriku sangat luas. Apakah aku bisa melewati hari esok tanpa rokok seperti hari ini ya?