Teman Kecilku bernama Dophamine

Ketika teman membaca tulisanku, ada gak yang bertanya tentang sosok teman kecilku? Pasti ada dong? ( narsiz abiis :) ). Baiklah teman kecilku itu bernama Dophamine. Ibunya bernama Mrs. Nikotin. Saat ini dia sedang bercokol di otakku. Dia pula yang selama ini membujuk aku untuk terus-menerus menghisap Ibunya ( jangan viktor ya…) dalam gulungan tembakau berbalut kertas.

Mrs. Nikotin masuk numpang di aliran darahku. Lalu berlabuh di pelabugan saraf otakku. Di sanalah dia melepaskan anaknya untuk meracuni pikiranku.

HARI VI

Aku baru sadar jika hari ini sudah memasuki hari ke-6 sejak genderang perang bertalu. Ternyata aku melewatkan hari ke-4 dan ke-5 dengan teman kecilku. Aku sedikit bisa bernafas lega karena pada hari itu teman kecilku tak menggoda. Memang sih, dua hari ini aku disibukkan oleh bejibun tugas untuk membuat buku panduan anak-anak kemah. Tak sedikitpun benak memikirkan nasib si teman kecil. Apakah teman kecilku mau gencatan senjata untuk menyusun strateginya yang baru? Kini aku mengerti jika kita tidak melupakan sesuatu, maka lupakanlah. Cobalah untuk memikirkan hal yang lain.

Tapi aku merasa aku belum bebas dari belenggu teman kecilku. Aku mendapat email dari Mbak Tati. Ada tulisan yang aku sitir dari email beliau. begini bunyinya : “menurut Don Robey, jika kita terus menerus melakukan hal yang sama selama 20 hari, maka hal tersebut akan menjadi kebiasaan baru”. Jika aku ingin menghilangkan kebiasaan merokok, berarti kurang 17 hari lagi. Padahal aku mentargetkan peperangan ini terjadi selama 100 hari.

HARI III

Suara-suara itu…

Orang-orang yang hilir mudik kesana kemari itu…

Berhenti…

Diam….

Rasa-rasanya semuanya masuk begitu saja ke dalam kepalaku. Rasa-rasanya aku memiliki pendengaran ultrasonik. Suara yang terdengar begitu jelas hingga menusuk ke dalam rumah siput. Suara sekecil apapun begitu kentara terdengar. Bahkan derap langkah kawanan semut hampir terdengar. Genderang telinga berdentang kencang.

Stress, karena aku paling tidak suka dengan keributan yang tak berirama. Hati tidak tenang. Pikiran gundah. Akal tak bisa berpikir jernih. Kata-kata terlontar bagaikan sumpah serapah. Semuanya sampah. Ingin rasanya aku pergi ke hutan yang sepi. Tempat dimana aku temukan kedamaian. Tempat dimana aku tidak melihat keangkaramurkaan manusia. Tapi hutan mana? Sedangkan keangkaramurkaan manusia kini dapat terlihat di dalam hutan selebat apapun. Mereka berbicara lewat potongan tubuh mereka yang dibabat habis oleh manusia. Pokoknya aku tak mau mendengar lagi suarau keributan.

Stres ya? Gusar ya? Aku punya solusi nih” teman kecilku muncul kembali membisikkan dalam hati.

Apa solusimu ha! Rokok? Jangan mimpi kamu dapat membujukku”jawabku.

Ah, kayak siapa saja. Sudah lupa ya akan keiasaanmu? Bukankah kamu akan menghabiskan 2 bungkus rokok sekaligus ketika kamu merasa stres?”

Tidak. Aku bukan perokok lagi. Rokok tak akan menyelesaikan rasa stress ini. Mereka justru menambah stress”jelasku

Terang aja mereka nambah stress. Lha wong kamu dapat rokoknya ngutang di warung Pak Tikno tho?”

Tidak. Pokoknya aku tidak mau melakukannya lagi”

Kuabaikan teman kecilku. Aku sadar rokok tak akan menyelesaikan rasa stres yang menghinggap kini. Kadar nikotin yang terkandung di dalamnya memang aku akui bersifat menenangkan. Membuat para penghisapnya merasakan sensasi ketenangan yang sangat. Tetapi itu semua tak menyelesaikan masalahku. Aku teringat apa yang di sampaikan guruku. Jika hati merasa gundah. Diri diselimuti kemarahan yang sangat maka segeralah ambil air wudhu. Basuhlah kepala dan ubun-ubun dengan air untuk meredakan aura api neraka yang berkobar dalam hati.

HARI II

Rasa bangga ada di hatiku saat ini. Kemenanganku kemarin membuat aku semakin optimis dapat memenangkan peperangan ini. Peperangan yang tak tahu akan berakhir sampai kapan. Siapa yang menang, siapa yang kalah? Menang dan kalah bagiku tak ada bedanya. Keduanya sama-sama menorehkan luka sisa-sisa sebuah pertarungan moral berkepanjangan.

Pagi benar aku mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan di kantor. Tepat pukul 06.15 teman kecilku meniupkan genderang perang. Sebuah serangan fajar dimulai. Serangan tersebut memilih daerah yang paling rawan dalam diriku. Paru-paru. Sekian banyak kandungan oksigen pagi itu seakan tak bisa memenuhi kebutuhan paru-paruku. Dadaku berasa terhimpit oleh truk tronton bermuatan seratus sak semen. Degupnya mengalahkan serunya hentakan konser musik rock punk malam tadi. Nun jauh di balik hati ini teman kecilku tertawa kegirangan.

ha…ha…ha. rasakan akibat kau meninggalkan rokok hei manusia sombong! Apakah kau mengira dirimu orang paling suci jika telah meninggalkan rokok? Apakah kau lupa apa obat sesak nafasmu ini? Merokoklah Estu, maka kau akan lepas dari derita ini!”

Tidak, Aku harus bertahan. Serangan ini belum seberapa. Aku harus kuat…!” jeritku dalam hati.

Cobaan ini aku rasakan sejak aku memutuskan untuk berhenti merokok. Begitu inginnya aku ,meninggalkan rokok. Keinginan itu melebihi rasa seorang pemuda melihat kekasih dambaannya. Seperti pengelana yang rindu akan segarnya air pegunungan di tengah padang tandus.

Beberapa hari ini aku lama tidak membuka emailku. Timbul keinginan untuk membuka email di kantor. Benar, puluhan pesan dari teman dan komunitas masuk ke dalam kotak suratku. Aku baca satu-persatu.

Hai Es, kayaknya asyik ya kalau kita pergi ke warnet. Kita sama-sama ngisi blog di sana. Berada di lantai dua di dalam smoking area.” Bisik teman kecilku.

Aku diam seribu bahasa. Anganku menerawang kembali ke masa lalu. Hobiku mengisi blog bak candu bagi para penggemarnya. Sehari saja tidak ngisi rasanya ada yang hilang dalam hidup. Seperti telur ceplok kurang garam. Hambar tak berasa.

Aku benar-benar betah berada di depan komputer ngisi blog. Satu jam hingga lima jam mata ini tak beranjak dari layar kaca. Tentu saja waktu yang berlangsung begitu lama bagiku itu tak akan bisa jika tak ada teman. Sebuah benda kecil biasa terselip di jari. Berbalut kertas agar isinya tak terurai. Sebuah benda yang mengingatkanku akan api neraka tiap satu hisapannya. Benda kecil yang menghabiskan kocekku sebesar 30.000 sehari. Rokok.

Ayo, jadi tidak?. Tenang saja kita akan merokok bersama biar asyik nge-blogingnya. Mumpung baru terima gaji. Cukup kok buat beli rokok dan nge-bloging”bisikan maut nan menyesatkan kembali meluncur dari teman kecilku.

Tidak. Aku bukan perokok lagi. Enyah kau dari hidupku”ujarku lantang padanya.

Ha…ha…ha. Manusia sombong. Bagaimana mungkin kau mengusir diriku. Kau adalah aku. Aku adalah kau.”

Hari I

Hari pertama,

Awal aku meninggalkan jejak sebagai perokok. Biasanya habis bangun tidur aku langsung mengambil sebatang rokok yang aku sisakan semalam. Sekarang tidak lagi. Jatah rokok pagi ini memang sengaja aku habiskan malam sebelumnya. Esok sudah tak ada lagi asap mengepul di rumah kecuali asap dapur dan obat nyamuk bakar. Pokoknya aku berjanji mulai hari hari ini aku mulai perjalanan hidupku tanpa rokok.

Selama perjalanan menuju kantor, aku sugestikan secara terus menerus pada diri ini. Aku bukan perokok lagi, selamat tinggal rokok, hari ini tiada sebatang rokok terselip di jemariku. Sugesti tersebut terus aku lafalkan dalam hati hingga tiba di kantor. Hari ini adalah hari Senin. Tak banyak kegiatan yang bisa aku lakukan. Hari-hari biasanya aku selalu mengisi jam yang kosong dengan merokok di gudang kantor. Apakah hari ini aku bisa melewatkan hari tanpa rokok?

Cobaan pertama datang. Selepas sarapan pagi di kantin, teman sejati tempat curhat segala persoalanku berbicara lewat hati terus mengrimkan sinyalnya ke otak untuk bertindak. Bisikan agar aku merokok selepas makan. Pasti nggak enak jika setelah makan tidak kita tutup dengan rokok. suara tersebut terus bergaung di sela-sela otak besar dan syarafku. Buru-buru aku menuju ke dalam ruanganku. Kuambil segelas air putih, kuambil lagi, lagi, dan lagi hingga suara tersebut tak lagi berkumandang.

Kulupakan semua perasanku tentang rokok dengan berbagai kegiatan. Cobaan kedua datang. Hujan deras mengguyur bumi. Jam kerja sudah habis. Saatnya aku harus berada di rumah. Naas jas hujan yang aku pakai raib entah kemana. Kesempatan ini digunaka oleh temanku untuk kembali membisikkan kata,”enaknya hujan-hujan begini merokok di gudang yang hangat”. Suara itu tak ku pedulikan. Aku terus saja mencari di mana jas hujanku. Berharap segera ketemu dan aku bisa melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Di sana bebas asap rokok. Di sana ada anakku yang ku tak mau menderita karena asap rokok. Di sana ada istriku yang menanti janji yang harus kutepati untuk berhenti merokok. Kemungkinan kesempatan merokokku tak ada sama sekali jika aku harus berada di rumah.

Aku mencari jas hujan sampai ke warung mbok Pini. Tempat biasa aku nongkrong sambil mengepulkan asap rokok bersama teman-teman. Di sana telah hadir Mr. Jati, Pak Bari, Mas Kadi yang siap join rokok denganku. Alih-alih memesan kopi aku menanyakan keberadaan jas hujanku pada Mbak Sri. Pelayan setia warung Mbok Pini. Secangkir kopi telah dihidangka di hadapanku. Manis dan hangatnya kopi seakan mengundang diriku untuk mengambil sebatang rokok sebagai pelengkapnya. Sebungkus rokok warung kini telah berada di hadapanku. Tidak, aku tak akan mengambil satu batang pun rokok di warung ini. Ah, setelah kopi ini habis aku akan segera pergi dari sini. Tak lama beberapa teman ahli hisap datang berduyun-duyun. Aku segera pamit kepada pelayan warung. Aku belum siap menghadapi ajakan teman-temanku untuk merokok. Lebih baik sementara waktu aku menghindar dari mereka.

Syukurlah. Jas hujanku ketemu di bawah sebuah tempat berteduh di kantor. Atas kebaikan budi Satpam kantor jas hujanku diselamatkan dari basahnya air hujan yang mengguyur. Jas hujan yang aku sampirkan di motorku selamat dari kebasahan. Heran padahal nanti juga aku pakai buat hujan-hujanan. Tidak masalah. Yang penting sekarang aku bisa pulang.

Di rumah. Anak istri menunggu dan menyambutku dengan gelak dan tawa ceria mereka. Sebuah kecupan kuberikan mendarat tepat di kening istri tersayang. Dalam hati aku berkata, “istriku, hari ini tak usah kau resahkan baju suamimu yang bau rokok. Hari ini bajuku masih berbau parfum yang kau berikan pagi tadi. Walau tak seharum pagi tadi karena sudah tercampur bau wangi keringatku. Penting baju ini tak lagi bau rokok”. Senyuman kecil tersungging dari bibir istriku. Nampaknya dia menangkap suara hatiku yang tak tersirat. Aku pun tak ragu untuk menggendong anakku. Kudekap, kebelai, kucium pipi tembem itu. Aku tak khawatir lagi karena sisa asap rokok yang biasa kuhirup tak lagi keluar. Kadang saat aku merokok dulu, sisa asap rokok masih suka keluar walau sudah aku cuci mulut ini. Kutimang dan kukeloni anakku supaya bisa tidur siang. Aku pun harus istirahat karena malam nanti harus pergi nge-les privat anak didikku.

Malam ini aku berangkat. Sekitar dua jam aku berada di rumah Hendi murid privatku. Sungguh beruntung diriku karena PR mala ni adalah Matematika yang belum aku kuasai materinya. Pusing dan puyeng yang didera Hendi atas PR nya aku rasakan sama pada diriku. Teman kecilku kembali berbisik,

”Kalau pikiran kamu pusing dan capek. Mendingan merokok aja enak deh. Sudahlah malam ini sebatang saja. Aku tahu kamu sedang diet rokok. Tapi sebagai permulaan terapi boleh khan sekali saja. Bandingkan pada hari-hari biasanya. Dua bungkus pun bisa kau sikat habis. Masak sekarang satu batanbg saja tidak bisa?. Ayolah ngak apa-apa. Terapi ini khan bersifat berangsur-angur. Nggak usahlah kamu berhenti total, tapi kurangi sedkit jatah yang biasa kamu konsumsi. Nanti kalau sudah kuat tidak apa-apa kau tidak merokok sama sekali”. Tidak. Aku harus kuat. Aku harus cepat-cepat sampai di rumah lagi. Aku ambil air wudhu, sholat Isya’ lalu tidur secepatnya.

Rupanya cobaan yang terakhir pada malam hari ini begitu kuat menghujam ke hatiku. Hujaman itu bagaikan sebuah cutter yang menyayat pelan, berulang dan ketajamannya meninggalkan rasa perih yang sangat. Aku mengira di rumah tiadk akan berani teman kecilku berbisik. Dugaanku salah. Ketika istriku menawarkan aku makan mie rebus, aku mengiyakan. Setelah itu bisikan yang sama seperti tadi pagi kembali terdengar,

”enaknya habis makan merokok ya. Tuh, warung Pak Tikno masih buka. Kalau nggak punya uang buat beli, bisa ngutang dulu kok” desak teman kecilku serasa masuk hingga ke pori-pori kulit di tubuhku.

“Hai, malam ini kamu khan akan menulis buku harianmu. Enaknya sambil merokok yuk biar dapat ide”

“Hai, malam ini kamu juga pas giliran jaga malam bukan? Ayo temani malammu dengan menghisap batang rokok. mumpung masih sore. Tidak hanya warung Pak Tikno yang buka, warung bu Suyadi pun masih”.

Berpuluh kata mengajakku untuk kembali menghisap tembakau yang dibalut kertas tersebut. Satu hal yang aku dapat berikan untuk membentengi diri ini,”AKU BISA 100 KALI LEBIH KUAT HIDUP TANPA MEROKOK”. Itulah self talk ku hari ini. Besok hari selasa. Hari terpadat aku bekerja,. Hari yang melelahkan. Peluang untuk mencoba diriku sangat luas. Apakah aku bisa melewati hari esok tanpa rokok seperti hari ini ya?