Rasa bangga ada di hatiku saat ini. Kemenanganku kemarin membuat aku semakin optimis dapat memenangkan peperangan ini. Peperangan yang tak tahu akan berakhir sampai kapan. Siapa yang menang, siapa yang kalah? Menang dan kalah bagiku tak ada bedanya. Keduanya sama-sama menorehkan luka sisa-sisa sebuah pertarungan moral berkepanjangan.
Pagi benar aku mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan di kantor. Tepat pukul 06.15 teman kecilku meniupkan genderang perang. Sebuah serangan fajar dimulai. Serangan tersebut memilih daerah yang paling rawan dalam diriku. Paru-paru. Sekian banyak kandungan oksigen pagi itu seakan tak bisa memenuhi kebutuhan paru-paruku. Dadaku berasa terhimpit oleh truk tronton bermuatan seratus sak semen. Degupnya mengalahkan serunya hentakan konser musik rock punk malam tadi. Nun jauh di balik hati ini teman kecilku tertawa kegirangan.
“ha…ha…ha. rasakan akibat kau meninggalkan rokok hei manusia sombong! Apakah kau mengira dirimu orang paling suci jika telah meninggalkan rokok? Apakah kau lupa apa obat sesak nafasmu ini? Merokoklah Estu, maka kau akan lepas dari derita ini!”
“Tidak, Aku harus bertahan. Serangan ini belum seberapa. Aku harus kuat…!” jeritku dalam hati.
Cobaan ini aku rasakan sejak aku memutuskan untuk berhenti merokok. Begitu inginnya aku ,meninggalkan rokok. Keinginan itu melebihi rasa seorang pemuda melihat kekasih dambaannya. Seperti pengelana yang rindu akan segarnya air pegunungan di tengah padang tandus.
Beberapa hari ini aku lama tidak membuka emailku. Timbul keinginan untuk membuka email di kantor. Benar, puluhan pesan dari teman dan komunitas masuk ke dalam kotak suratku. Aku baca satu-persatu.
“Hai Es, kayaknya asyik ya kalau kita pergi ke warnet. Kita sama-sama ngisi blog di sana. Berada di lantai dua di dalam smoking area.” Bisik teman kecilku.
Aku diam seribu bahasa. Anganku menerawang kembali ke masa lalu. Hobiku mengisi blog bak candu bagi para penggemarnya. Sehari saja tidak ngisi rasanya ada yang hilang dalam hidup. Seperti telur ceplok kurang garam. Hambar tak berasa.
Aku benar-benar betah berada di depan komputer ngisi blog. Satu jam hingga lima jam mata ini tak beranjak dari layar kaca. Tentu saja waktu yang berlangsung begitu lama bagiku itu tak akan bisa jika tak ada teman. Sebuah benda kecil biasa terselip di jari. Berbalut kertas agar isinya tak terurai. Sebuah benda yang mengingatkanku akan api neraka tiap satu hisapannya. Benda kecil yang menghabiskan kocekku sebesar 30.000 sehari. Rokok.
“Ayo, jadi tidak?. Tenang saja kita akan merokok bersama biar asyik nge-blogingnya. Mumpung baru terima gaji. Cukup kok buat beli rokok dan nge-bloging”bisikan maut nan menyesatkan kembali meluncur dari teman kecilku.
“Tidak. Aku bukan perokok lagi. Enyah kau dari hidupku”ujarku lantang padanya.
“Ha…ha…ha. Manusia sombong. Bagaimana mungkin kau mengusir diriku. Kau adalah aku. Aku adalah kau.”
DIarsipkan di bawah: JEJAKKU
